TUGAS EKONOMI KOPERASI
TUGAS SOFTSKILL
EKONOMI KOPERASI
BATIK INDONESIA
Disusun Oleh:
ARISKA INDAH CAHYANI
PRASTYO
21216086
Dosen Pembimbing:
Tri Damayanti
FAKULTAS EKONOMI
2017
BATIK
INDONESIA
Batik
merupakan kebudayaan khas Indonesia yang sudah ada sejak masa kerajaan
majapahit. Batik dikenal sejak abad ke-17 pada zaman nenek moyang yang ditulis
dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi
dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah, batik mengalami
perkembangan yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman kini beralih
pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan
sebagainya. Melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian
jadilah seni batik tulis. Budaya bangsa Indonesia yang demikian kaya telah
mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisional dengan ciri
khasnya sendiri. Misal batik Pekalongan, Yogyakarta, Solo atau daerah-daerah
lain di Indonesia yang memiliki corak atau motif sesuai dengan ciri khas daerahnya.
Batik
adalah salah satu cara pembuatan bahan kain. Selain itu batik bisa mengacu pada
dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam,
teknik ini adalah salah satu bentuk seni kuno yang berguna untuk mencegah
pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literature Internasional, teknik ini
dikenal sebagai wax-resist dyeing. Yang kedua yaitu kain atau busana yang
dibuat dengan teknik tersebut termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang
memiliki kekhasan. Batik juga termasuk jenis kerajinan yang memiliki nilai seni
tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya jawa) sejak
lama.
Perempuan-perempuan
jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata
pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan
eksklusif bagi kaum perempuan. Semenjak Industrialisasi dan globalisasi yang
memperkenalkan teknik otomatis, menghasilkan batik jenis baru yaitu “Batik cap
dan Batik cetak” yang memungkinkan laki-laki bekerja di bidang ini. Namun
pengecualian bagi batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti corak
batik “Mega Mendung” dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik
merupakan hal lazim bagi kaum lelaki. Sementara batik tradisional diproduksi
dengan teknik tulis tangan yang menggunakan canting dan malam disebut dengan
batik tulis. Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi turun menurun,
sehingga suatu motif dapat dikenal berasal dari batik keluarga tertentu.
Beberapa motif batik dapat menunjukan status seseorang. Bahkan sampai saat ini,
beberapa motif batik tradisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta
dan Surakarta.
SEJARAH
BATIK INDONESIA
Sejarah
batik yang tepat tidak dapat dipastikan tetapi artifak batik yang pernah
ditemui berusia lebih 2000 tahun. Dari manapun asalnya, hasil seni ini telah
menjadi warisan peradaban dunia. Jenis corak batik tradisional tergolong amat
banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi atau budaya masing-masing
daerah. Pemakaian batik dalam busana tradisi mempunyai sejarah yang lama yaitu berlangsung
dari zaman awal tamadun Melayu. Batik dipakai oleh semua golongan, dari raja ke
bangsawan sampai rakyat jelata. batik merupakan seni asli yang praktikal dan
popular. Dalam tradisi penulisan kain cindai, misalnya disebut dalam banyak
hikayat-hikayat silam. Batik menjadi hadiah perpisahan dan perlambangan cinta
dalam Hikayat Malim Deman dan dijadikan tanda penganugerahan derajat dalam
Hikayat Hang Tua.
PERKEMBANGAN
BATIK DI INDONESIA
Sejarah pembatikan di
Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan majapahit dan kerajaan
sesudahnya. Pengembangan batik dilakukan pada masa kerajaan Mataram, kerajaan
Solo dan Yogyakarta. Kesenian batik merupakan kesenian gambar di atas kain untuk
pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman
dahulu. Awalnya batik dikerjakan hanya didalam kraton dan hasilnya digunakan untuk pakaian raja, keluarga,
serta para pengikutnya. Namun banyak dari pengikut raja yang tinggal di luar
kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan
ditempat masing-masing.
Dalam perkembangannya lambat
laun kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan meluas menjadi
pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangga untuk mengisi waktu senggang. Batik
yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat
yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang digunakan adalah
hasil tenunan sendiri. Sedangkan bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari
tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain pohon mengkudu,
soga, nila, dan bahan soda yang terbuat dari soda abu, serta garam yang terbuat
dari tanah lumpur.
MOTIF
BATIK DI INDONESIA
Ragam corak dan warna batik
dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya batik memiliki ragam corak
dan warna yang terbatas, beberapa corak hanya boleh di pakai oleh kalangan
tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para
pedagang asing dan juga para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah
dipopulerkan oleh Tionghoa dan juga mempopulerkan corak phoenix. Berbeda dengan
batik pesisir, Batik tradisional tetap mempertahankan coraknya dan masih dipakai
dalam upacara-upacara adat. karena masing-masing corak memiliki perlambangan
masing-masing. Adapun jenis-jenis Batik
Berdasarkan Corak atau Motif yang ada di Indonesia sampai saat ini adalah
sebagai berikut :
1. Batik
Pekalongan
Pasang surut perkembangan batik Pekalongan,
memperlihatkan pekalongan layak menjadi ikon bagi perkembangan batik di
Nusantara. Ikon bagi karya seni yang tak pernah menyerah dengan perkembangan
zaman dan selalu dinamis. Kini batik sudah menjadi nafas kehidupan sehari-hari
warga Pekalongan dan merupakan salah satu produk unggulan. Hal ini disebabkan
oleh banyaknya industri yang menghasilakan produk batik. Karena terkenal dengan
produk batiknya, Pekalongan dikenal sebagai Kota Batik. Julukan itu datang dari
suatu tradisi yang cukup lama di Pekalongan. Selama periode yang panjang
itulah, aneka sifat, ragam kegunaan, jenis rancangan, serta mutu batik
ditentukan oleh iklim dan keberadaan serat-serat setempat, faktor sejarah
perdagangan dan kesiapan masyarakatnya dalam menerima paham serta pemikiran
baru. Batik Pekalongan termasuk batik pesisir yang paling kaya akan warna.
Sebagaimana ciri khas batik pesisir, ragam hiasnya biasanya bersifat naturalis.
Jika dibandingkan dengan batik pesisir lainnya Batik Pekalongan ini sangat
dipengaruhi pendatang keturunan China dan Belanda. Motif Batik Pekalongan sangat
bebas dan menarik meskipun sering kali dimodifikasi dengan variasi warna yang
atraktif. Tak jarang pada sehelai kain batik dijumpai hingga 8 warna yang
berani dan kombinasi yang dinamis. Keistimewaan Batik Pekalongan adalah para
pembatiknya yang selalu mengikuti perkembangan zaman. Misal pada waktu
penjajahan jepang, maka lahir batik dengan nama ” Batik Jawa Hokokai” yaitu
batik dengan motif dan warna yang mirip kimono Jepang. Pada tahun enam puluhan
juga diciptakan batik dengan nama ”Tritura”. Bahkan pada tahun 2005, sesaat
setelah presiden SBY diangkat muncul batik dengan motif ”SBY” yaitu motif batik
yang mirip dengan kain tenun ikat dan songket. Warga Pekalongan tidak pernah
kehabisan ide untuk membuat kreasi motif batik.
2. Batik
Mega Mendung
Hampir di seluruh wilayah Jawa memiliki
kekayaan budaya batik yang khas. tentu saja ada daerah-daerah yang lebih
menonjol seperti Solo, Yogya, dan Pekalongan. tetapi kekayaan seni batik daerah
Cirebon juga tidak kalah dibanding kota-kota lain. Menurut sejarahnya, di
daerah cirebon terdapat pelabuhan yang ramai disinggahi berbagai pendatang dari
dalam maupun luar negeri. Salah satu pendatang yang cukup berpengaruh adalah
pendatang dari Cina yang membawa kepercayaan dan seni dari negerinya. Dalam
Sejarah diterangkan bahwa Sunan Gunung Jati yang mengembangkan ajaran Islam di
daerah Cirebon menikah dengan seorang putri Cina Bernama Ong Tie. Istri beliau
ini sangat menaruh perhatian pada bidang seni, khususnya keramik. Motif-motif
pada keramik yang dibawa dari negeri cina ini akhirnya mempengaruhi motif-motif
batik hingga terjadi perpaduan antara kebudayaan Cirebon-Cina. Salah satu motif
yang paling terkenal dari daerah Cirebon adalah batik Mega Mendung atau
Awan-awanan. Pada motif ini dapat dilihat baik dalam bentuk maupun warnanya
bergaya selera cina. Motif Mega Mendung melambangkan pembawa hujan yang di
nanti-natikan sebagai pembawa kesuburan, dan pemberi kehidupan. Motif ini
didominasi dengan warna biru, mulai biru muda hingga biru tua. Warna biru tua
menggambarkan awan gelap yang mengandung air hujan, pemberi kehidupan,
sedangkan warna biru muda melambangkan semakin cerahnya kehidupan.
3. Batik
motif Truntum
Boleh dibilang motif Truntum merupakan simbol
dari cinta yang bersemi kembali. Menurut kisahnya, motif ini diciptakan oleh
seorang Ratu Keraton Yogyakarta. Sang Ratu yang selama ini dicintai dan dimanja
oleh Raja, merasa dilupakan oleh Raja yang telah mempunyai kekasih baru. Untuk
mengisi waktu dan menghilangkan kesedihan, Ratu pun mulai membatik. Secara
tidak sadar ratu membuat motif berbentuk bintang-bintang di langit yang kelam,
yang selama ini menemaninya dalam kesendirian. Ketekunan Ratu dalam membatik
menarik perhatian Raja yang kemudian mulai mendekati Ratu untuk melihat
pembatikannya. Sejak itu Raja selalu memantau perkembangan pembatikan Sang
Ratu, sedikit demi sedikit kasih sayang Raja terhadap Ratu tumbuh kembali.
Berkat motif ini cinta raja bersemi kembali atau tum-tum kembali, sehingga
motif ini diberi nama Truntum, sebagai lambang cinta Raja yang bersemi kembali.
4. Batik
Jlamprang
Motif – motif Jlamprang atau di Yogyakarta
dengan nama Nitik adalah salah satu batik yang cukup popular diproduksi di
daerah Krapyak Pekalongan. Batik ini merupakan pengembangan dari motif kain
Potola dari India yang berbentuk geometris kadang berbentuk bintang atau mata
angin dan menggunakan ranting yang ujungnya berbentuk segi empat. Batik
Jlamprang ini diabadikan menjadi salah satu jalan di Pekalongan.
5. Batik
Pegantin
Setiap motif pada batik tradisional klasik
selalu memiliki filosofi tersendiri. Pada motif Batik, Khususnya daerah jawa
tengah terutama Solo dan Yogya, setiap gambar memiliki makna. Hal ini ada
hubungannya dengan arti atau makna filosofis dalam kebudayaan Hindu-Jawa. Pada
motif tertentu ada yang dianggap sakral dan hanya dapat dipakai pada kesempatan
atau peristiwa tertentu, diantaranya pada upacara perkawinan. Motif Sido-Mukti
biasanya dipakai oleh pengantin pria dan wanita pada acara perkawinan,
dinamakan juga sebagai Sawitan (sepasang). Sido berarti terus menerus atau
menjadi dan mukti berarti hidup dalam berkecukupan dan kebahagiaan. jadi dapat
disimpulkan motif ini melambangkan harapan akan masa depan yang baik, penuh
kebahagiaan unuk kedua mempelai. Selain Sido Mukti terdapat pula motif Sido
Asih yang maknanya hidup dalam kasih sayang. Masih ada lagi motif Sido Mulyo yang
berarti hidup dalam kemulian dan Sido Luhur yang berarti dalam hidup selalu
berbudi luhur. Ada pula motif yang bukan sawitan kembar, tetapi biasanya
dipakai pasangan pengantin yaiu motif Ratu Ratih berpasangan dengan Semen Rama yang
melambangkan kesetiaan seorang istri kepada suaminya. Sebenarnya masih banyak
lagi motif yang biasa dipakai pasangan pengantin, semuanya diciptakan dengan
melambangkan harapan, pesan, niat dan itikad baik kepada pasangan pengantin.
Pada Upacara Perkawinan Orang tua pengantin biasanya memakai motif Truntum yang
dapat pula berarti menuntun, yang maknanya menuntun kedua mempelai dalam
memasuki liku-liku kehidupan baru yaitu berumah tangga. Dikenal juga motif Sido
Wirasat, wirasat berarti nasehat, dan pada motif ini selalu terdapat kombinasi
motif truntum di dalamnya, yang melambangkan orangtua akan selalu memberi
nasehat dan menuntun kedua mempelai dalam memasuki kehidupan berumah tangga.
6. Batik
Tiga Negeri
Kerumitan membuat sepotong batik tulis ternyata
masih belum cukup jika kita tahu sejarah motif Batik Ttiga Negeri. Motif Batik
Tiga Negeri merupakan gabungan batik khas Lasem, Pekalongan dan Solo, pada
jaman kolonial wilayah memiliki otonomi sendiri dan disebut negeri. Mungkin
kalau hanya perpaduan motifnya yang khas masing-masing daerah masih wajar dan
biasa, tetapi yang membuat batik ini memiliki nilai seni tinggi adalah
prosesnya. Konon menurut para pembatik, air disetiap daerah memiliki pengaruh
besar terhadap pewarnaan, dan ini masuk akal karena kandungan mineral air tanah
berbeda menurut letak geografisnya. Maka dibuatlah batik ini di masing-masing
daerah. Pertama, kain batik ini dibuat di Lasem dengan warna merah yang khas,
seperti merah darah, setelah itu kain batik tersebut dibawa ke Pekalongan dan
dibatik dengan warna biru, dan terakhir kain diwarna coklat sogan yang khas di
kota Solo. Mengingat sarana transportasi pada zaman itu tidak sebaik sekarang,
maka kain Batik Tiga Negeri ini dapat dikatakan sebagai salah satu masterpiece
batik.
7. Batik
Pagi Sore
Desain batik pagi sore mulai ada pada jaman
penjajahan Jepang. Pada waktu itu karena sulitnya hidup, untuk penghematan,
pembatik membuat kain batik pagi sore. Satu kain batik dibuat dengan dua desain
motif yang berbeda. Sehingga jika pada pagi hari kita menggunakan sisi motif
yang satu, maka sore harinya kita dapat mengenakan motif yg berbeda dari sisi
kain yang lainnya,jadi terkesan kita memakai 2 kain yang berbeda padahal hanya
1 lembar kain. Tentu saja sekarang jarang sekali orang yang memakai kain kebaya
(jarik) untuk sehari-hari, tetapi motif pagi sore masih banyak di buat pada
produk batik lainnya. Biasanya kain sutra ada yang dibuat 2 motif pada satu
lembar kain jadi dapat dibuat dua baju, ada pula scarf yang biasa dipakai untuk
jilbab, dibuat setengah polos dan setengah motif. Batik pagi sore memang
alternatif untuk memiliki ragam batik dengan biaya terbatas.
Jenis-jenis Batik Berdasarkan Tekniknya
sebagai berikut :
· Batik Tulis adalah kain yang dihias dengan
tekstur dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan
waktu kurang lebih 2-3 bulan.
· Batik Cap adalah kain yang dihias dengan
tekstur dan corak batik yang dibentuk dengan cap (biasanya terbuat dari
tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3
hari.
· Batik Lukis adalah proses pembuatan batik
dengan cara langsung melukis pada kain putih.
Alat-alat Untuk Membuat Batik atau Perlengkapan Membatik
Terdapat beberapa hal yang harus kita persiapkan dalam
mempersiapkan alat dan bahan untuk membuat batik sebagai berikut:
1.
Kain Mori
Kain
mori adalah bahan baku batik yang terbuat dari katun, sutera, polyster, rayon
dan bahan sintesis yang lainnya. Warna kain mori adalah putih. Kualitas kain
ini beragam dan setiap kualitasnya sangat menentukan baik buruknya kain batik
yang dihasilkan. Kain mori yang akan dipakai sebelummnya dipilih (dijahit pada
bekas potongan) terlebih dahulu supaya benang pakan tidak terlepas. Setelah
dipilit, lalu kain dicuci dengan air tawar hingga bersih.
2.
Canting
Canting
digunakan untuk membatik, yang terbuat dari bahan tembaga dan bamboo. Canting
dipakai untuk menyendok lilin cair yang panas, yang dipakai sebagai bahan
penutup atau pelindung terhadap zat warna. Canting dipergunakan untuk menulis
atau membuat motif-motif batik yang diinginkan. Canting terdiri dari cucuk
(saluran kecil) nyamplungan dan gagang terong. Lubang cucuk bermacam-macam, ada
yang besar dan kecil. Banyaknya cucukpun beragam ada yang satu cucuk, dua
cucuk, tiga cucuk.
3.
Gawangan
Gawangan
adalah alat untuk menyangkutkan dan membentangkan kain mori saat dibatik.
Gawangan terbuat dari kayu atau bamboo. Gawangan ini harus dibuat sedemikian
rupa agar mudah dipindah-pindahkan, kuat dan ringan.
4.
Lilin
Penggunaan
lilin untuk membatik berbeda dengan lilin biasa. Lilin untuk membatik bersifat
cepat menyerap pada kain tetapi dapat dengan mudah lepas ketika proses
pelorotan.
5.
Wajan
Wajan
adalah alat untuk mencairkan lilin atau malam. Wajan terbuat dari logam baja
atau tanah liat. Wajan sebaiknya bertangkai supaya mudah diangkat dan
diturunkan dari perapian tanpa menggunakan alat lain. Wajan yang terbuat dari
tanah liat, tangkainya tidak mudah panas, tapi agak lambat memanaskan malam.
Sedangkan wajan yang terbuat dari logam, tangkainya mudah panas, tetapi cepat
memanaskan malam.
6.
Bandul
Bandul
dibuat dari timah, kayu, atau batu yang dikantongi. Fungsi pokok bandul adalah
untuk menahan kain mori yang baru dibatik agar tidak mudah bergeser tertiup
angin, atau ketarik si pembatik secara tidak sengaja
7.
Anglo
Anglo
adalah perapian yang terbuat dari tanah liat sebagai pemanas malam. Bahan
bakarnya adalah arang kayu. Selain menggunakan anglo, kompor juga bisa
digunakan untuk memanaskan malam, bahan bakar kompor adalah minyak.
8.
Tepas
Tepas
adalah alat untuk membesarkan api yang terbuat dari bambu. Selain tepas, dapat
menggunakan kipas angin untuk membesarkan api
9.
Taplak
Taplak
adalah kain untuk menutup paha si pembatik supaya tidak kena tetesan malam
panas sewaktu canting ditiup atau waktu membatik. Taplak biasanya terbuat dari
kain bekas.
10.
Saringan Malam
Saringan
adalah alat untuk menyaring malam panas yang banyak kotorannya. Jika malam disaring,
maka kotoran dapat dibuang. sehingga tidak menganggu jalannya malam pada cucuk
canting sewaktu dipergunakan untuk membatik.
11.
Dingklik
Dingklik
adalah tempat duduk untuk pembatik
DAFTAR
PUSTAKA
Hindayani, Fisika, 2009. Mengenal dan Membuat Batik. Jakarta Selatan : Buana Cipta Pustaka
Aliya, 2010. Batik Pekalongan.Jakarta Timur : CV. Rama Edukasitama
Wilson, Edward O.
(1998). Consilience: The Unity of Knowledge.Vintage: New York.ISBN
978-0-679-76687-8

Komentar