TUGAS EKONOMI KOPERASI: BAB XIII
BAB
XIII
1.
Kewirausahaan
a.
Definisi Wirausaha dan Kewirausahaan
Wirausaha adalah
orang yang mengambil resiko dengan jalan membeli barang sekarang dan menjual
kemudian dengan harga yang tidak pasti (Cantillon).
Wirausaha adalah orang yang
memindahkan sumber-sumber ekonomi dari daerah dengan produktivitas rendah ke
daerah dengan produktivitas dan hasil lebih tinggi (J.B Say). Wirausaha adalah orang yang menciptakan cara baru dalam
mengorganisasikan proses produksi (Schumpeter).
Tugas Wirausaha adalah melakukan
sesuatu dengan cara yang berbeda, bukan hanya sekadar dengan cara yang lebih
baik.
b.
Karakteristik Pribadi Wirausaha
Sifat kepribadian
wirausaha dipelajari guna mengetahui karakteristik perorangan yang membedakan
seorang wirausaha dan bukan wirausaha. David
McCleland mengindikasikan ada
korelasi positif antara tingkah laku orang yang memiliki motif prestasi tinggi
dengan tingkah laku wirausaha. Karakteristik orang-orang yang mempunyai motif prestasi
tinggi adalah:
1. Memilih resiko “moderate”
Dalam tindakannya dia memilih melakukan sesuatu yang ada tantangannya, namun
dengan cukup kemungkinan untuk berhasil.
2. Mengambil tanggung jawab pribadi atas
perbuatan-perbuatan. Artinya kecil sekali kecenderungan untuk mencari “kambing hitam” atas kegagalan atau kesalahan
yang dilakukannya.
3. Mencari umpan balik (feed back) tentang
perbuatan-perbuatannya.
4. Berusaha melakukan sesuatu dengan cara-cara baru.
Upaya untuk mengungkapkan karakteristik utama wirausaha
juga dilakukan oleh para ahli dengan menggunakan teori letak kendali (locus of control) yang dikemukakan oleh
J.B. Rotter. Teori letak kendali menggambarkan bagaimana meletakkan sebab dari
suatu kejadian dalam hidupnya. Apakah sebab kejadian tersebut oleh faktor dalam
dirinya dan dalam lingkup kendalinya atau faktor diluar kendalinya.
Dua kategori letak kendali menurut Rotter yaitu:
·
Internal
Orang yang beranggapan
bahwa dirinya mempunyai kendali atas apa yang akan dicapainya. Karakteristik
ini sejalan dengan karakteristik wirausaha seperti lebih cepat mau menerima pembaharuan
(inovasi).
·
Eksternal
Orang yang beranggapan
keberhasilan tidak semata tergantung pada usaha seseorang, melainkan juga oleh
keberuntungan, nasib, atau ketergantungan pada pihak lain, karena adanya
kekuatan besar disekeliling seseorang.
Management Systems International menyebutkan
karakteristik pribadi wirausaha (personal
entrepreneurial characteristics) sebagai berikut:
1. Mencari peluang
2. Keuletan
3. Tanggungjawab terhadap pekerjaan
4. Tuntutan atas kualitas dan efisiensi
5. Pengambilan resiko
6. Menetapkan sasaran
7. Mencari informasi
8. Perencanaan yang sistematis dan pengawasannya
9. Persuasi dan jejaring/koneksi
10. Percaya diri
c.
Peran Wirausaha Bagi Lingkungannya
Dalam pandangan Schumpeter, seorang
wirausaha adalah inovator. Hanya seseorang yang sedang melakukan inovasi yang
dapat disebut sebagai wirausaha. Mereka yang tidak lagi melakukan inovasi,
walaupun pernah, tidak dapat lagi dianggap sebagai wirausaha. Wirausaha
bukanlah jabatan, melainkan suatu peran. Berdasarkan pengertian tentang
wirausaha yang telah dibahas sebelumnya dapat disimpulkan bahwa peran wirausaha
yang utama bagi lingkungannya adalah sebagai berikut:
- Memperbaharui dengan “merusak secara kreatif”.
Dengan
keberaniannya melihat dan mengubah apa yang sudah dianggap mapan, rutin, dan
memuaskan.
- Inovator
Menghadirkan hal yang baru di
masyarakat.
- Mengambil dan memperhitungkan resiko
- Mencari peluang dan memanfaatkannya
- Menciptakan organisasi baru
d.
Mitos dalam Kewirausahaan
Berikut ini rincian mitos
kewirausahaan yang dikumpulkan oleh Michael Robert dan Alan Weiss, dan sejumlah
bukti yang dikumpulkan dari berbagai sumber yang menetang mitos tersebut.
·
Wirausaha adalah
pengambil resiko besar
-
Wirausaha bukan
pengambil resiko besar, melainkan seorang yang menghitung resiko yang akan
diambilnya. Tantangan ada namun dengan upaya akan dapat dicapai.
- Wirausaha bijaksana dalam memilih resiko dan bukan penjudi.
·
Wirausaha adalah
pemilik usaha, bukan pegawai
-
Yang mengubah
restoran “fast food” McDonald’s menjadi raja dibidang “franchising” adalah Ray Kroc, pimpinan perusahaan, dan bukan
pemiliknya yaitu McDonald bersaudara.
- Intrepreneur di dalam perusahaan bukanlah pemilik.
·
Inovasi hanya di
perusahaan kecil
- Inovasi dilakukan dengan ketrampilan atau keahlian dan bukan pembawaan
atau milik budaya tertentu. Ia dilakukan dimana-mana.
- Musuh inovasi adalah birokrasi yang terdapat di perusahaan besar ataupun
kecil.
·
Inovasi adalah
gagasan besar
Sebagian keberhasilan besar dimulai
dari gagasan baru yang sederhana, misalnya “walkman”
muncul sebagai produk baru yang sukses berasal dari keinginan tetap mendengar
musik secara pribadi selagi berolahraga.
·
Wirausaha adalah
pencetus gagasan saja
Seorang inovator terjun langsung
menerapkan gagasannya.
·
Wirausaha
menyediakan sarananya termasuk modal sendiri
- Wirausaha tidak sama dengan kapitalis.
- Wirausaha menggunakan sarana yang ada dengan cara baru.
·
Inovasi datang
mencuat bagai kilat dari seorang genius
- Ray Kroc memperbaharui bisnis hamburger dengan mengadakan pengamatan
terus-menerus atas restoran McDonald’s.
- Fred Smith menghasilkan “undergraduate thesis” model distribusi barang
kiriman kecil (parcel) dari pengamatan di kantor pos dan perusahaan pengiriman
UPS. Thesisnya dinilai C- oleh dosennya, namun gagasannya setelah diterapkan
menjadi perusahaan Federal Express yang sangat sukses.
·
Wirausaha
dilahirkan dan kewirausahaan tidak dapat dilatihkan
Seperti ketrampilan dokter atau
pengacara, ketrampilan kewirausahaan dapat dilatihkan.
2.
Intrapreneurship
a.
Terminologi
Kewirausahaan (Intrapreneurship)
Beberapa tahun belakangan ini topik
intrapreneurship semakin popular. Dari sekian banyak masih ada kekeliruan dalam
memahami konsep yang mendasari intrapreneurship tersebut. Kebanyakan definisi
yang ada menyebutkan bahwa intrapreneurship tidak lepas dari
aktivitas-aktivitas entrepreneurial yang sesuai dengan persetujuan organisasi
dan komitmen sumber daya untuk tujuan inovatif. Pada dasarnya pokok tujuan
intrapreneurship adalah mengembangkan semangat entrepreneurial dalam ikatan
organisasi, sekaligus menciptakan iklim guna tercapainya kesejahteraan.
Intrapreneur
Seorang entrepreneur di dalam sebuah
organisasi yang telah ada. Biasanya
dilakukan karena organisasi tersebut telah tumbuh besar dan kurang fleksibel.
Intrapreneurship
Kebiasaan
mengembangkan bisnis baru di dalam struktur organisasi yang ada (Stoner, 1995)
Entrepreneur
Orang yang berusaha mendirikan usaha
baru/organisasi baru
b.
Kebutuhan Akan Sifat Kewirausahaan Dalam Organisasi
Banyak perusahaan
menyadari akan pentingnya sifat kewirausahaan dalam organisasinya (Peter dan Waterman dalam bukunya A Passion
of Excellence). Kebutuhan akan kewirausahaan semakin meningkat dikarenakan
munculnya permasalahan seperti :
1. Semakin banyak pesaing yang mempunyai keunggulan
2. Ketidakpercayaan akan metode-metode tradisional dalam
manajemen
3. Banyak SDM berpotensi hengkang dan lebih memilih
menjadi wirausaha
c. Hambatan-Hambatan Yang Terjadi
Hambatan-hambatan yang
biasanya dialami oleh perusahaan adalah tidak efektifnya penerapan teknik
tradisional manajemen pada pengembangan suatu bidang baru. Pemahaman tentang
hambatan-hambatan tersebut merupakan hal yang penting dalam membantu
perkembangan kewirausahaan perusahaan mengingat hal tersebut merupakan kunci
dasar penumbuhan iklim inovasi. Faktor-faktor yang mendukung utuk tercapainya
keberhasilan inovasi-inovasi menurut James
Brian Quinn (1995) adalah :
1. Iklim
inovasi dan visi
2. Orientasi
pasar
3. Organisasi yang tetap datar dan kecil
4. Proses
belajar interaktif
d. Elemen-Elemen
Spesifik Strategi Intrapreneurial Korporat
Dalam
upaya untuk menciptakan strategi intrapreneurial, perusahaan harus
memperhatikan pertimbangan-pertimbangan berikut ini :
1. Perusahaan yang mempromosikan pertumbuhan pegawai akan
dapat merekrut orang-orang yang memiliki kemampuan terbaik.
2. Tantangan
di era tahun 2000-an ini adalah pelatihan kembali para manajer untuk menjadi
guru, pelatih dan mentor.
3. Orang-orang
dengan kemampuan terbaiknya mencari perusahaan terbaik yang menyediakan program
bonus.
4. Wewenang
manajemen akan degantikan oleh suatu jaringan, dicirikan oleh koordinasi dan
dukungan horizontal.
5. Intrapreneurship
dalam korporasi memperbolehkan seorang pegawai.
6. Mendapatkan kepuasan dari pengembangan ide-idenya tanpa
resiko meninggalkan perusahaan.
7. Perusahaan-perusahaan besar mengambil pelajaran dari
bisnis kecil dan belajar bagaimana bisa fleksibel, mendorong inovasi, serta
membakar semangat pegawainya.
Menurut John W.
Alexander (1989) untuk mendukung strategi intrapreneurial ini, ada beberapa
langkah penting yang perlu dilakukan :
1. Penngembangan
visi
2. Dorongan
inovasi
3. Penstrukturan
suatu iklim intrapreneurial
4. Pengembangan
tim usaha
Ada
satu cara bagi perusahaan untuk mengembangkan iklim intrapreneurial, yakni
melalui program Intrapreneurship Training Program (ITP). Program tersebut
dirancang untuk melatih para peserta untuk mendukung intrapreneurship dalam
lingkup pekerjaan masing-masing. Program ini mencakup :
·
Pengenalan
·
Kreativitas
individu
·
Intrapreneuring
·
Penilaian
budaya yang ada saat ini
·
Perencanaan
bisnis
·
Perencanaan
tindakan
e. Penghapusan Mitos Tentang Intrapreneurial
Ada kesamaan mendasar antara entrepreneur
dengan intrapreneur. Akibatnya mitos-mitos keliru tentang entrepreneur menulari
juga intrapreneur.
Mitos : motivasi utama dari
seorang entrepreneur (intrapreneur) adalah keinginan untuk kemakmuran,
karenanya uang adalah tujuan utama.
Kenyataan : motivasi utama dari
entrepreneur (intrapreneur) adalah proses inovasi : kebebasan dan kemampuan
adalah motivasi utama, uang hanya sebuah alat dan symbol kesuksesan.
Mitos : entrepreneur adalah
pengambil resiko tinggi – mereka adalah penjudi yang memainkan taruhan besar.
Kenyataan : wirausaha adalah
seorang yang realistis dengan mengambil resiko menengah. Karena ia
memperhitungkan resiko yang dihadapi.
3.
Ultrapreneurship
dan Ecopreneuring
Ultrapreneur
adalah wirausaha yang pandai melakukan strategi alliance dan outsourcing strategy
yang tepat, tanpa menghilangkan kreatifitas dan kepercayaan diri serta mampu
membuat benchmarking yang sinergis. strategic alliance adalah persekutuan yang
terdiri dari dua atau lebih perusahaan yang melaksanakan suatu proyek tertentu
atau melakukan kerja sama disuatu bidang usaha tertentu. outsourcing strategy
adalah strategi perusahaan untuk menyerahkan usaha (dalam bentuk kerja sama)
diluar usaha utama kepada perusahaan lain yang lebih kompeten. benchmarking
adalah proses memperbandingkan produk, pelayanan atau praktek bisnis secara
berkesinambungan terhadap pesaing utama atau perusahaan yang dianggap sebagai
panutan dalam bidang usahanya. sinergi merupakan hasil kerja sama yang lebih
besar daripada penjumlahan hasil dari masing-masing pihak bila ia bekerja
sendiri-sendiri.
Ecopreneur
adalah wirausaha yang peduli dengan masalah lingkungan atau kelestarian
lingkungan. dalam menjalankan kegiatannya mereka selalu memperhatikan daya
dukung lingkungan dan berusaha meminimisasikan dampak kegiatannya terhadap
lingkungan.
4.
Paradigma
Baru Kewirausahaan
“ketika ada seorang pekerja di
kantoran, kemudian dia membuka usaha atau berwirausaha, tanpa mempunyai
skill sebelumnya, kemudian dia sukses dalam berwirausaha walaupun basicnya
bukan wirausaha”
Artinya
paradigma baru berwirausaha menjelaskan bahwa berwira usaha tidak hanya
memiliki satu profesi atau satu kemampuan yang dibentuk sejak dini atau
diwariskan oleh orang tua, paradigma baru berwirausaha mengajarkan setiap
orang bisa berwirasausaha dan menjadi wirausaha yang sukses asal mempunyai
kemampuan tanpa harus mempunyai basic dari awal. Contohnya ‘ ada pegawai atau
pun profesi yang lain seperti seorang ibu rumah tangga, yang sebelum tidak tahu
akan berwirausaha kemudian suatu hari mereka memulai berwirausaha dengan nol,
setelah lama kemudiaan usaha mereka sukses.
5.
Kewirakoperasian
a.
Definisi
Kewirakoperasian
Kewirakoperasian
adalah suatu sikap mental positif dalam usaha komperatif dengan mengambil
prakasa inovatif serta keberanian mengambil resiko dan berpegang teguh pada
prinsip identitas koperasi dalam mewujudkan terpenuhinya kebutuhan nyata, serta
peningkatan kesejahteraan bersama. Dari definisi tersebut terkandung beberapa
unsur yang patut diperhatikan:
1.
Kewirausahan koperasi merupakan sikap
mental positif dalam berusaha secara komperatif. Ini berarti kewirakopersian
harus mempunyai keinginan untuk memajukan organisasi koperasi.
2.
Tugas utama kewirakoperasian adalah
mengambil prakasa inovatif artinya berusaha mencari, menemukan dan memanfaatkan
peluang yang ada demi kepentingan bersama, selain itu kewirakoperasian juga
menciptakan keunggulan bersaing koperasi dibanding dengan organisasi usaha
pesaingnya.
3.
Wirakoperasi harus mempunyai keberanian
mengambil resiko karena dunia penuh dengan kepastian. Oleh karena itu dalam
menghadapi situasi semacam itu diperlukan seorang wirausaha yang mempunyai
kemampuan mengambil resiko.
4.
Kegiatan wirakoperasi harus berpegang
teguh pada prinsip identitas koperasi yaitu anggota sebagai pemilik dan
sekaligus sebagai pelanggan.
5.
Tujuan utama setiap wirakoperasi adalah
memenuhi kebutuhan nyata anggota koperasi dan meningkatkan kesejahteran
bersama.
Berdasarkan fungsinya, Jenis
kewirakoperasian dibedakan menjadi 3 hal yaitu :
1. Kewirakoperasian
Rutin
Kewirakoperasian rutin diarahkan pada
kegiatan rutin organisasi usaha koperasi seperti produksi, pemasaran, personalia,
keuangan, administrasi, dan lain-lain.
2. Kewirakoperasian
Arbitrage
Arbitrage di sini dimaksudkan sebagai
keputusan yang diambil dari dua kondisi yang berbeda. Tugas utama wirakoperasi
dalam hal ini mencari peluang yang menguntungkan dari dua kondisi yang berbeda.
3. Kewirakoperasian
Inovatif
Wirakoperasi yang inovatif berarti
wirakoperasi yang selalu tidak puas dengan kondisi yang ada. ia selalu berusaha
mencari, menemukan dan memanfaatkan peluang yang diperoleh.
b.
Tipe – tipe kewirakoperasian
1. Kewirakoperasian
Anggota
Anggota sebagai pemilik koperasi dapat
menjadi wirakoperasi bila ia mampu menemukan dan memanfaatkan peluang yang ada
untuk Pertumbuhan Koperasi.
2.
Kewirakoperasian Manager
Koperasi yang mengangkat manager sebagai
pelaksana dan penanggung
jawab kegiatan operasional dan tentumya mengharapkan perubahan yang memberikan keuntungan, tetapi kendala yang dihadapi oleh manager adalah keterbatasan kebebasan untuk bertindak.
jawab kegiatan operasional dan tentumya mengharapkan perubahan yang memberikan keuntungan, tetapi kendala yang dihadapi oleh manager adalah keterbatasan kebebasan untuk bertindak.
3.
Kewirakoperasian Birokrat
Birokrat adalah pihak yang secara
tidak langsung berhubungan dengan
pengembangan gerakan koperasi.Setiap kegiatannya memang diarahkan untuk memacu perkembangan koperasi.
pengembangan gerakan koperasi.Setiap kegiatannya memang diarahkan untuk memacu perkembangan koperasi.
4.
Kewirkoperasian Katalis
Katalis diartikan sebagai pihak yang
berkompeten terhadap pengembangan koperasi kendatipun ia tidak mempunyai
hubungan langsung dengan organisasi koperasi.
c.
Tugas – tugas dan Prasyarat kewirakoperasian
Tugas-Tugas Kewirakoperasian
1. Mendudukkan
koperasi sebagai penguasa yang kuat di pasar.
2.
Mereduksi biaya transaksi.
3.
Memanfaatkan interlinkage market.
4.
Memanfaatkan trust capital.
5.
Mengedalikan ketidakpastian.
6.
Menciptakan inovasi.
7.
Membangun manfaat partisipasi.
Prasyarat
keberhasilan kewirakoperasian
1. Melalui
kegiatan inovatif (penciptan bangunan baru dan penerapannya).
2. Melalui
kegiatan peningkatan kegiatan kerja (berprestasi lebih banyak dalam satuan
waktu kerja tetap atau waktu kerja yang diperpanjang.
d. Sifat-Sifat dan Hakikat wirausaha
Sifat-Sifat
Wirausaha
1.
Penolong.
2.
Penghibur.
3.
Seniman.
4.
Pemikir.
5. Aktivis.
Hakikat
dari fungsi wirausaha
Hakikat
dari fungsi wirausaha melihat dan menerapkan kemungkinan-kemungkinan baru
dalam bidang ekonomi, fungsi ini disebut fungsi inovatif. Fungsi inovasi dapat
dijabarkan dalam berbagai kegiatan kerja meliputi:
1. Mengenai
keuntungan atau manfaat dari kombinasi-kombinasi baru.
2.
Evaluasi keuntungan yang terlangsung
dalam kombinasi baru itu.
3.
Pembiayaan.
4.
Teknologi dan perencanan pembangunan
tempat-tempat produksi.
5.
Pengadaan,pendidikan dan memimpin tenaga
kerja.
6.
Negoisasi dengan pemerintah badan atau
resmi yang berwenang.
7.
Negoisasi dengan pemasok pelanggan.
e.
Faktor
Penentu Keberhasilan Wirausaha
Tiga faktor penentu keberhasilan inovasi seorang
wirausaha:
1. Hak
Bertindak.
2. Kemampuan
.
3. Motivasi
untuk berprestasi.
Menurut
tokoh koperasi Ibnoe Soedjono, untuk memahami apa yang disebut kemampuan
koperasi, kita perlu menggunakan tolak ukur keberhasilan koperasi secara mikro.
Keberhasilan koperasi dapat didekati dari dua sudut, yaitu sudut perusahaan dan
sudut efek koperasi. Pendekatan
dari sudut perusahaan:
1. Peningkatan
anggota perorangan.
2. Peningkatan
modal.
3. Peningkatan
volume usaha.
4. Peningkatan
pelayanan kepada anggota dan masyarakat.
Pendekatan
dari sudut efek koperasi:
1. Produktivitas.
2. Efektivitas.
3. Adil.
4. Mantap.
f.
Keuntungan
dan Kelemahan Menjadi Wirausaha
Keuntungan menjadi wirausaha:
1. Terbuka peluang untuk mencapai tujuan
yang dikehendaki sendiri.
2. Terbuka peluang untuk mendemonstrasikan
potensi seseorang secara penuh.
3. Terbuka peluang untuk memperoleh manfaat
dan keuntungan secara maksimal.
4. Terbuka peluang untuk membantu
masyarakat dengan usaha-usaha konkrit.
5. Terbuka
kesempatan untuk menjadi bos.
Kelemahan menjadi wirausaha:
1. Memperoleh pendapat yang tidak pasti dan
memiliki berbagai resiko.
2. Bekerja keras dan waktu kerjanya
panjang.
3. Kualitas kehidupannya masih rendah
sampai usahanya berhasil, sebab dia harus berhemat.
4. Tanggung jawabnya sangat besar, banyak
keputusan yang harus dia buat walaupun dia kurang menguasai permasalahan yang
dihadapinya.
DAFTAR
PUSTAKA
hartonor.blogspot.com/2016/09/paradigma-wirausaha.html
https://lenterakecil.com/pengertian-entrepreneurship-kewirausahaan/

Komentar