TUGAS EKONOMI KOPERASI : BAB X
BAB
X
1.
Kualitas
Pelayanan Kepada Anggota Koperasi
Kualitas Layanan Menurut Zethaml et.al dalam
Fajar Laksana (2008:88) kualitas layanan yang diterima konsumen dinyatakan
besarnya perbedaan antara harapan atau keinginan konsumen dengan tingkat
persepsi mereka. Sedangkan menurut Lovelock dalam Fajar Laksana (2008:88)
dikatakan bahwa kualitas adalah tingkat mutu yang diharapkan, dan pengendalian
keragaman dalam mencapai mutu tersebut untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
Menurut Fandy Tjiptono (2003:4) kualitas diartikan sebagai kondisi dinamis yang
berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi
atau melebihi harapan.
Dari pendapat beberapa ahli diatas dapat
disimpulkan pengertian kualitas layanan adalah suatu kondisi dimana jasa yang
diberikan tersebut dinilai dalam sebuah ukuran (unggul/tidak unggul) untuk
memenuhi keinginan dan kebutuhan pelanggan. Untuk mengetahui kualitas layanan
yang diberikan koperasi sudah sesuai dengan harapan anggota, maka harus ada
perbandingan antara layanan yang mereka terima dengan harapan yang mereka
inginkan. Parasuraman, at all dalam Joesron (2005:15) menyebutkan bahwa
kualitas layanan yang sering disebut dimensi Servqual (Service Quality)
terdapat lima dimensi di dalamnya yaitu :
1) Tangibel
/ Bukti fisik yaitu kemampuan suatu koperasi dalam menunjukkan aksistensinya
kepada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan, sarana dan prasarana fisik
koperasi adalah bukti nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa
2) Reliability
/ keandalan yaitu kemampuan koperasi untuk memberikan pelayan sesuai yang
dijanjikan secara akurat dan terpercaya, kinerja harus sesuai dengan harapan
anggota yang berarti ketepatan waktu, pelayanan yang sama untuk semua anggota
tanpa kesalahan, sikap yang simpatik dengan akurasi yang tinggi
3) Responsiveness
/ tanggapan yaitu Suatu kemampuan untuk membantu dan memberikan layanan yang
cepat dan tepat kepada anggota, dengan menyampaikan informasi yang jelas.
Membiarkan anggota menunggu tanpa adanya suatu alasan yang jelas menyebabkan persepsi
yang negatif dalam kualitas layanan
4) Assurance
/ jaminan dan kepastian yaitu pengetahuan, kesopan santunan para karyawan
koperasi, terdiri dari beberapa komponen antara lain, komunikasi, kredibilitas,
keamanan, kompetensi, dan sopan santun
5) Empathy
(Empati/Kepedulian) yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat
individual atau pribadi yang diberikan kepada anggotanya dengan berupaya
memenuhi keinginan anggota.
2.
Manajemen
Strategik Pelayanan Kepada Anggota Koperasi
a.
Pengertian
Manajemen Strategis Koperasi
Menurut
G.Terry, Manajemen adalah suatu proses yang terdiri dari perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan penggunaan suatu ilmu dan seni
secara bersama – sama menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan. Strategik
adalah rencana jangka panjang dengan diikuti tindakan – tindakan yang ditujukan
untuk mencapai tujuan suatu organisasi. Menurut Ketchen (2009) manajemen
strategis adalah sebuah analisis, keputusan dan aksi yang dilakukan perusahaan
untuk menciptakan dan mempertahankan keunggulan kompetitifnya. Maka
manajemen strategik Koperasi adalah suatu ilmu perencanaan,pengorganisasian,
penerapan atau pelaksanaan, dan pengawasan terhadap alokasi sumber daya untuk
menerapkan suatu kebijakan dalam koperasi tersebut agar tercapainya tujuan yang
sudah direncanakan. manajemen merupakan hal yang sangat penting dalam koperasi.
Manajemen menunjukka bahwa fungsi atau kegiatan manajemen (POAC) secara
langsung maupun tidak langsung selalu bersangkutan dengan unsur manusia,
planing berarti ciptaan manusia, organizing selain mengatur manusia, actuating
adalah proses gerakan manusia, dan sedangkan controling diadakan agar
pelaksanaan manajemen selalu dapat meningkatkan hasil kerjanya. Kini
manajemen strategik tidak hanya sebaga kebutuhan bagi koperasi namun juga sebagai
faktor kompetisi sehingga dapat menampilkan eksistensi nya di kancah
Nasional. Mengacu pada pendapat Peter
Davis (1995), ada bebrapa hal penting dalam manajemen strategis koperasi
(Cooperative Management Strategic) diantaranya :
1.
Strategis harus berjalan pada
tingkat fungsional operasiona, maupun tingkat koperasi sebagai badan usaha
(corporate).
2.
Tidak akan pernah ada program
manajemen strategis koperasi yang efektif tanpa manajemen sumber daya manusia,
sebab manajemen strategis koperasi berpusat pada orang (human centred),
dan dipengaruhi oleh nilai-nilai, serta budaya koperasi.
3.
Koperasi perlu melakukan merjer dan
bukan bersaing di dalam pasar global, tetapi harus mampu bersaing dengan
perusahaan “transnational” didalam pasar nasional.
4.
Identitas dan tujuan koperasi
memberi koperasi arah strategis dan legitimasi serta diferensiasi di dalam
pasar, yaitu nilai- nilai koperasi strategis yang besar.
5.
Akar komunitas koperasi dan prinsip
keanggotaan (membership based) adalah kekuatan strategis yang besar, yang
memungkinkan koperasi mampu secara efektif mengembangkan “kompetensi” lokal
untuk mengalahkan perusahaan transnasional dalam persaingan.
6.
Koperasi dapat mengembangkan suatu
“global brand”, berdasarkan identitas, nilai-nilai dan tujuan koperasi. Hal ini
akan sangat memperkuat daya saing tingkat nasional dari koperasi- koperasi
primer.
7.
Komite sektoral ICA (International
Cooperative Alliances) harus diperkuat agar mampu mengembangkan tim proyek
untuk sektor tersebut. Untuk mengidentifikasi dan mengembangkan bisnis baru,
serta mendukung pengembangan strategi koperasi, pada tingkat nasional, tetapi
dari sudut pandang global.
8.
Koperasi harus belajar untuk
bekerjasama pada tingkat global, pada wilayah pemasaran “public image” dan
kesadaran masyarakt terhadap terhadap gerakan koperasi serta mengembangkan “top
quality management”
9. ICA harus diperkuat untuk mampu
melakukan kontrak dengan lembaga idependen yang dapat menyusun standar kualitas
bagi koperasi. Semua koperasi primer maupun sekunder harus diakreditasi untuk
memenuhi standar kualitas tersebut. Hal ini penting untuk melindungi pemasaran
“branded product” global, dari kelemahan manajemen koperasi primer yang tidak
mampu mencapai WCCQ (World Cooperative Quality).
10.Ketika lingkungan berubah dengan
cepat, akan ada tekanan yang menyebabkan kita hanya berpikir jangka pendek, dan
kehilangan arah untuk tujuan-tujuan strategis menyeluruh (overall goals).
Koperasi perlu mengembangkan strategi agar dapat mempertahankan fokus dan
tujuan, agar dapat menegakkan dan mengembangkan nilai-nilainya, mengembangkan
pelayanan bagi anggota dan pelanggannya.
11.Tujuan dari manajeman strategis
adalah agar koperasi mampu menjaga kesesuain antara identitasnya, dan tujuannya
serta lingkungannya. Koperasi harus mengembangkan strategi untuk menjaga dan
mengembangkan pangsa pasarnya dan mengembangkan kemampuan memasok sesuai dengan
kebutuhan anggota dan pelanggannya secara menyeluruh. Strategi pada akhirnya
berarti pencapaian keuntungan kompetitif di pasar.
b.
Bagian
– bagian Manajemen Strategik Koperasi
Untuk
mencapai segala sesuatu yang menjadai tujuan koperasi tersebut terlebih dari
pelayanan kepada anggota, terhadap pemasaran koperasi, terhadap keuangan
koperasi, hingga pada manajemen strategi terhadap SDM
koperasinya. Berikut ini kami jabarkan beberapa manajemen strategik
yang sangat penting dilaksanakan dan diterapkan oleh Koperasi diantaranya :
1. Manajemen strategik pelayanan Kepada
anggota Koperasi
Hal
ini sangat penting dikarenakan pelayanan adalah nilai penting bagi anggota,
kerena tujuan dari sebuah koperasi adalah kesejahteraan anggota, maka koperasi
harus maksimal dalam aspek pelayanan kepada anggota baik dari waktu ke waktu
koperasi juga harus memperbaiki kualitas pelayanan terhadap anggotanya.
2. Manajemen strategik Pemasaran
Koperasi
Dalam
hal pemasaran koperasi juga harus bisa lebih unggul dari perusahaan lainnya.
Pemasaran yang baik, kreatif dan inovativ diharapkan mampu menarik masyarakat
untuk bergabung menjadai anggota koperasi dan mampu loyal terhadap koperasi
tersebut. Sehingga dapat mendatangkan keuntungan yang lebih baik.
3. Manajemen strategik Keuangan
koperasi
Keuangan
merupakan kunci utama dari sebuah organisasi. Semua kegiatan yang dilakukan
koperasi haruslah memiliki dana yang jelas mulai dari keputusan menarik dana,
menginvestasikan dana, serta penggunaan modal koperasi. Hal ini haruslah
dilakukan secara bijak oleh menejer dibawah pengawana dari pengawas.
4. Manajemen Sumber daya Manusia
Strategik dalam koperasi
Seperti
yang telah disebutkan diawal tadi bahwa SDM merupakan poin penting dari sebuah
organisasi dan manajemen didalamnya. Maka dari itu SDM yang berada didalam
jajaran koperasi haruslah memilik kompetensi keahlian pada bidangnya masing –
masing.
3. Pelaksanaan
Strategi
a.
Pelaksanaan
Strategi
Pelaksanaan strategi yang
bersangkutan di atas segalanya membuat rencana kerja akan menjadi tantangan
yang lebih besar daripada membuat rencana. Eksekusi adalah kunci keberhasilan
kompetitif, tapi itu membutuhkan langkah-langkah yang besar. Tantangan
pelaksanaan :
·
Budaya
organisasi dan bagaimana hal tersebut nantinya tidak sesuai dengan tantangan
masa Mendatang.
·
Insentif
dan bagaimana orang dihargai berdasarkan senioritas, bukan berdasarkan kinerja
atau prestasi yang kompetitif.
·
Kebutuhan
untuk mengatasi masalah dengan tradisional fungsional “silo” dalam struktur
organisasi.
·
Tantangan
yang melekat dalam mengelola perubahan sebagai divisi disesuaikan dengan
kondisi persaingan baru.
b.
Pembuatan Strategi Kerja Lebih Sulit
Daripada Pembuatan Strategi
Eksekusi
sangat penting bagi keberhasilan. Eksekusi merupakan proses disiplin atau
seperangkat logis dari kegiatan terhubung yang memungkinkan organisasi untuk
mengambil strategi dan membuatnya bekerja. Tanpa hati, pendekatan terencana
untuk eksekusi, tujuan strategis tidak dapat dicapai. Mengembangkan pendekatan
semacam logis, bagaimanapun, merupakan tantangan berat bagi manajemen. Bahkan
dengan hati-hati perkembangan rencana eksekusi pada tingkat bisnis,
keberhasilan eksekusi tidak dijamin. Perusahaan ini hendak pergi melalui
metamorfosis besar yang itu hanya tidak dilengkapi untuk menangani dan membuat
pekerjaan. Eksekusi pada rencana pendiri tingkat bisnis atau gagal jika mereka
tidak menerima dukungan perusahaan. Meskipun eksekusi sangat penting untuk
keberhasilan strategis, membuat pekerjaan strategi menyajikan tantangan berat.
Sejumlah faktor, termasuk politik, inersia, dan resistensi terhadap perubahan,
secara rutin bisa masuk jalan kesuksesan eksekusi. Aspek mencolok dari semua
ini adalah bahwa manajer tampaknya masih tidak tahu banyak tentang pelaksanaan
strategi. Hal ini masih dipandang sebagai masalah utama dan tantangan.
Literatur manajemen telah difokuskan selama bertahun-tahun terutama pada
memamerkan ide-ide baru pada perencanaan dan perumusan strategi di depan
pembaca bersemangat, tetapi telah amat diabaikan eksekusi. Memang, perencanaan
adalah penting. Memang, orang yang sadar akan tantangan dan mulai mengambil
eksekusi serius. Namun, jelas bahwa pelaksanaan strategi hampir tidak jelas dan
dipahami sebagai perumusan strategi. Jauh lebih yang diketahui tentang
perencanaan daripada melakukan, tentang strategi membuat daripada membuat
strategi kerja.
c.
Suara Pelaksanaan Fokus Pada
Pembuatan Strategi Kerja Membayar Dividen Utama
Eksekusi ini sangat sulit. Ada
hambatan yang tangguh atau rintangan yang mendapatkan di jalan proses eksekusi
dan serius menghalangi pelaksanaan strategi. Jalan menuju sukses eksekusi penuh
dengan lubang yang harus dinegosiasikan untuk sukses eksekusi. Mari kita
mengidentifikasi beberapa masalah atau rintangan yang mempengaruhi
implementasi. Mari kita kemudian fokus pada menghadapi rintangan dan memecahkan
masalah eksekusi.
·
MANAGERS
ARE TRAINED TO PLAN, NOT EXECUTE
Dalam
kebanyakan program MBA, siswa belajar banyak tentang perumusan strategi dan
perencanaan fungsional. Inti program biasanya mengasah dalam pada strategi
bersaing, strategi pemasaran, strategi keuangan, dan sebagainya. Adakah jumlah
kursus dalam program inti yang menangani secara eksklusif dengan
pelaksanaan atau implementasi? Biasanya tidak ada. Eksekusi yang paling pasti
menyentuh dalam beberapa kursus, tapi tidak dalam, rumit, cara tujuan khusus. Ditambahkan
ke kurangnya pelatihan dalam pelaksanaan adalah fakta bahwa strategi dan
perencanaan di sebagian besar sekolah bisnis diajarkan dalam, “silos” oleh
departemen atau disiplin, dan eksekusi menderita lebih lanjut. Pandangan bahwa
strategi pemasaran, strategi keuangan, strategi SDM, dan seterusnya adalah
satu-satunya,”right” pendekatan merusak dengan pandangan integratif dituntut
oleh eksekusi. Tampaknya, kemudian, bahwa sebagian besar program MBA
(undergrad, juga, dalam hal ini) yang ditandai dengan penekanan pada strategi
pengembangan, tidak mengeksekusi mereka. Lulusannya fasih dalam strategi dan
perencanaan, dengan hanya lewat paparan eksekusi. Kurangnya perhatian formal
untuk pelaksanaan strategi di kelas jelas harus membawa ke kurangnya perhatian
dan keterbelakangan konsekuen dalam bidang eksekusi di dunia nyata. Hal ini juga
secara logis bahwa para manajer yang tahu sesuatu tentang eksekusi strategi
sangat mungkin memiliki keuntungan lebih dari rekan-rekan mereka yang tidak.
Jika manajer dalam satu perusahaan yang lebih berpengalaman dalam cara eksekusi
dari manajer dalam sebuah organisasi pesaing, hal ini tidak logis untuk
mengasumsikan, semua hal lain dianggap sama, bahwa mantan perusahaan dapat
menikmati keunggulan kompetitif atas yang terakhir, mengingat perbedaan dalam
pengetahuan atau kemampuan? Manfaat dari pelaksanaan yang efektif
termasuk keunggulan kompetitif dan keuntungan yang lebih tinggi kepada para
pemegang saham, sehingga memiliki pengetahuan di bidang ini akan tampak jelas
untuk menjadi berharga dan bermanfaat bagi organisasi.
·
LET
THE “GRUNTS” HANDLE EXECUTION
Masalah
lain adalah bahwa beberapa C-tingkat dan manajer tingkat atas lainnya
benar-benar percaya bahwa pelaksanaan strategi atau implementasi “di bawah
mereka,” sesuatu yang paling baik diserahkan kepada karyawan tingkat bawah.
Memang, judul bagian ini berasal dari kutipan yang sebenarnya dari seorang
manajer tingkat tinggi. Apa gambaran proses perencanaan dan eksekusi!
Para perencana (orang-orang “pintar”) mengembangkan rencana bahwa “the
grunt”(tidak cukup sebagai pintar) hanya harus menindaklanjuti dan membuat
pekerjaan. “Melakukan” jelas melibatkan kurang kemampuan dan kecerdasan dari
“perencanaan,” persepsi pekerjaan manajerial yang jelas merendahkan proses
eksekusi. Pandangan yang berlaku di sini adalah bahwa satu kelompok manajer
tidak inovatif, pekerjaan yang menantang (perencanaan) dan kemudian
“menyerahkan bola” untuk menurunkan kadar untuk eksekusi. Jika rencana kacau
dan strategis tidak berhasil (yang sering terjadi), masalahnya ditempatkan
tepat di kaki dari “pelaku,” yang entah bagaimana mengacaukan dan tidak bisa
melaksanakan rencana sempurna suara dan layak. Para pelaku meraba-raba bola
meskipun drama yang dirancang para perencana. Yang benar adalah bahwa semua
manajer adalah “the grunt” ketika datang ke eksekusi strategi. Dari CEO ke bawah,
eksekusi menuntut bahwa manajer menyingsingkan lengan baju dan pitch mereka
untuk membuat perbedaan. Isi dan fokus dari apa yang mereka lakukan dapat
bervariasi antara manajemen puncak dan menengah. Meskipun demikian, eksekusi
menuntut komitmen dan gairah untuk hasil, terlepas dari tingkat manajemen.
·
PLANNING
AND EXECUTION ARE INTERDEPENDENT
Perencanaan
mempengaruhi eksekusi. Pelaksanaan strategi, pada gilirannya, mempengaruhi
perubahan strategi dan perencanaan dari waktu ke waktu. Hubungan antara perencanaan
dan melakukan menunjukkan dua poin penting yang perlu diingat. Hasil strategis
yang sukses terbaik dicapai ketika mereka yang bertanggung jawab untuk eksekusi
juga merupakan bagian dari proses perencanaan atau perumusan. Semakin besar
interaksi antara “pelaku” dan “perencana” atau besar tumpang tindih dari dua
proses atau tugas, semakin tinggi probabilitas keberhasilan eksekusi. Titik
terkait adalah bahwa keberhasilan strategis menuntut “simultan” pandangan
merencanakan dan melakukan. Manajer harus berpikir tentang eksekusi bahkan saat
mereka merumuskan rencana. Eksekusi bukanlah sesuatu yang “khawatir nanti.”
Semua keputusan dan tindakan eksekusi, tentu saja, tidak bisa diambil
sekaligus. Eksekusi masalah atau bidang masalah harus diantisipasi, bagaimanapun,
sebagai bagian dari “gambaran besar” berurusan dengan merencanakan dan
melakukan. Merumuskan dan melaksanakan adalah bagian dari suatu pendekatan
manajemen strategis terpadu. Pandangan ganda atau simultan adalah penting namun
sulit untuk dicapai, dan itu merupakan suatu tantangan bagi pelaksanaan yang
efektif.
·
EXECUTION
TAKES LONGER THAN FORMULATION
Langkah
yang dilakukan untuk mengeksekusi strategi berlangsung dari waktu ke waktu, dan
banyak faktor, termasuk beberapa yang tak terduga, ikut bermain. Suku bunga
dapat berubah, pesaing tidak berperilaku dengan cara mereka seharusnya
(kompetitor bisa terkenal “tidak adil” di kali, tidak bermain dengan “aturan”
kami!), Kebutuhan pelanggan perubahan, dan personil kunci meninggalkan
perusahaan. Hasil dari perubahan dalam metode strategi dan eksekusi tidak
selalu dapat dengan mudah ditentukan karena “noise” atau kejadian yang tidak
terkontrol. Ini jelas meningkatkan kesulitan upaya eksekusi. Kerangka waktu
lama menempatkan tekanan pada manajer berurusan dengan eksekusi. Kebutuhan
jangka panjang harus diterjemahkan ke dalam tujuan jangka pendek. Kontrol harus
dibentuk untuk memberikan umpan balik dan menjaga manajemen mengikuti “kejutan”
dan perubahan eksternal. Proses eksekusi harus dinamis dan adaptif, menanggapi
dan kompensasi untuk kejadian tak terduga. Ini menyajikan tantangan nyata untuk
manajer dan meningkatkan kesulitan eksekusi strategi.
·
EXECUTION
IS A PROCESS, NOT AN ACTION OR STEP
Eksekusi
bukan hasil dari keputusan atau tindakan. Ini adalah hasil dari serangkaian
keputusan terpadu atau tindakan dari waktu ke waktu. Ini membantu menjelaskan
mengapa eksekusi menganugerahkan keunggulan kompetitif. Perusahaan akan mencoba
untuk patokan keberhasilan pelaksanaan strategi. Namun, jika eksekusi melibatkan
serangkaian internal konsisten, kegiatan terpadu, sistem kegiatan, atau proses,
imitasi akan sangat sulit, jika tidak mustahil. Eksekusi adalah sebuah proses
yang menuntut banyak perhatian untuk membuatnya bekerja. Eksekusi bukan
keputusan tunggal atau tindakan. Manajer yang mencari solusi cepat untuk
masalah eksekusi pasti akan gagal dalam upaya untuk membuat pekerjaan strategi.
Lebih cepat tidak selalu lebih baik.
· EXECUTION
INVOLVES MORE PEOPLE THAN STRATEGY FORMULATION DOES
Terdapat
masalah tambahan. Komunikasi dalam organisasi atau seluruh fungsi yang berbeda
menjadi sebuah tantangan. Memastikan bahwa insentif seluruh dukungan upaya
eksekusi strategi organisasi menjadi suatu keharusan dan, berpotensi, masalah.
Menghubungkan tujuan strategis dengan tujuan dari hari kehari dan keprihatinan
personil di tingkat organisasi yang berbeda dan lokasi menjadi tugas yang sah
tapi menantang. Semakin besar jumlah orang yang terlibat, semakin besar
tantangan eksekusi strategi yang efektif.
d.
Tantangan
Dalam Eksekusi Strategi
§ Developing
a model to guide execution decisions or actions
Membuat sebuah model sangat
diperlukan sebagai guideline dalam mengambil keputusan dan tindakan strategi.
Tanpa guideline antara eksekusi dan tindakan akan tumpang tindih dan tidak
terkoordinasi dengan baik. Seorang manager akan melakukan kesalahan dan
kebijakan yang buruk jika guideline tersebut tidak jelas.
§ Understanding
how the creation of strategy affects the execution of strategy
Inilah
adalah bagian penting untuk pelaksanaan yang efektif. Mengetahui bagaimana
untuk mencapai koordinasi dan berbagi informasi dalam kompleks, organisasi
geografis penting untuk keberhasilan pelaksanaan. Namun manajer sering
termotivasi untuk tidak berbagi informasi atau bekerja dengan rekan-rekan
mereka untuk mengkoordinasikan kegiatan dan mencapai tujuan strategis dan
jangka pendek. Kenapa? Jawaban atas pertanyaan ini sangat penting untuk
keberhasilan pelaksanaan strategi.
§ Managing
change effectively, including culture change.
Eksekusi
atau implementasi strategi sering melibatkan perubahan. Tidak penanganan
perubahan juga akan berarti bencana bagi upaya eksekusi. Mengelola perubahan
berarti lebih dari menjaga orang bahagia dan mengurangi resistensi terhadap
ide-ide baru dan metode. Ini juga berarti mengetahui taktik atau
langkah-langkah yang dibutuhkan untuk mengelola proses eksekusi dari waktu ke
waktu. Apakah manajer menerapkan perubahan secara berurutan, sedikit demi
sedikit, atau mereka melakukan semuanya sekaligus, menggigit peluru dan
menerapkan perubahan dalam satu gerakan? Salah jawaban serius dapat menghambat
atau membunuh upaya eksekusi. Mengetahui bagaimana mengelola proses eksekusi
dan perubahan yang terkait dari waktu ke waktu ini penting untuk keberhasilan
pelaksanaan.
§ Understanding
power or influence and using it for execution success
Eksekusi
program yang bertentangan dengan kekuasaan atau pengaruh struktur organisasi
akan gagal. Tapi apa yang mempengaruhi kekuasaan atau pengaruh? Power lebih
dari kepribadian individu atau posisi. Daya mencerminkan strategi, struktur,
dan ketergantungan kritis pada kemampuan dan sumber daya yang langka.
Mengetahui apa daya dan bagaimana membuat dan menggunakan pengaruhnya bisa
mengeja perbedaan antara keberhasilan dan kegagalan eksekusi.
§ Developing
organizational structures that foster information sharing, coordination, and
clear accountability.
Untuk
melaksanakan strategi, tanggung jawab dan akuntabilitas harus jelas. Penggunaan
matriks tanggung jawab atau alat serupa dapat membantu untuk menentukan tugas
eksekusi kunci atau kegiatan dan orang-orang yang bertanggung jawab untuk
mereka. Tanpa klarifikasi ini peran dan tanggung jawab untuk tugas-tugas
penting, keputusan, dan hasil, membuat strategi kerja sulit
§ Developing
effective controls and feedback mechanisms
Gambaran
pelaksanaan strategi belum lengkap tanpa adanya kontrol efektif dan mekanisme
feedback yang diterima. karena penciptaan strategi, tujuan, struktur,
akuntabilitas, dan mekanisme koordinasi tidak cukup untuk memastikan bahwa
orang akan merangkul tujuan organisasi. Beberapa metode dilakukan untuk
mencapai keselarasan tujuan individu dan organisasi. Eksekusi akan gagal
jika tidak adanya umpan balik pada kinerja. Setelah itu kontrol kinerja
juga diperlukan agar organisasi dapat mengevaluasi apakah hal- hal yang
dilakukan selama ini telah sesuai dengan proses eksekusi strategi. insentif
akan memotivasi atau membimbing kinerja dan mendukung aspek-aspek kunci dari
model strategi-eksekusi. Kontrol, pada gilirannya, memberikan umpan balik yang
tepat waktu dan valid tentang kinerja organisasi sehingga perubahan dan
adaptasi menjadi bagian rutin dari upaya implementasi. Kontrol memungkinkan
untuk revisi faktor eksekusi terkait jika tujuan yang diinginkan tidak
terpenuhi
§ Knowing
how to create an execution-supportive culture.
Organisasi
harus mengembangkan budaya eksekusi-pendukung. Eksekusi menuntut budaya
prestasi, disiplin, dan kepemilikan. Namun mengembangkan atau mengubah budaya
bukanlah tugas yang mudah. Perubahan budaya bisa mengakibatkan resistensi. Hal
ini menuntut manajer untuk mencari celah , bagaimanapun, menghasilkan perubahan
budaya yang langgeng. Mengetahui apa yang mempengaruhi perubahan budaya
merupakan pusat keberhasilan eksekusi.
§ Exercising
execution-biased leadership
Kepemimpinan
haruslah eksekusi bias. Kepemimpinan seharusnya mengarahkan organisasi untuk
sukses melakukan eksekusi. Hal ini juga harus memotivasi kepemilikan dan
komitmen terhadap proses eksekusi. Kepemimpinan mempengaruhi bagaimana
organisasi menanggapi semua tantangan eksekusi sebelumnya. Hal tersebut selalu
tersirat ketika membahas apa tindakan atau keputusan yang diperlukan untuk
membuat strategi kerja. Sebuah analisis lengkap di sertai dengan
langkah-langkah pelaksanaan dan keputusan. Dan semuanya bisa menjadi gambaran definisi
apa kepemimpinan yang baik dan bagaimana hal itu mempengaruhi kesuksesan
pelaksanaan strategi baik secara langsung maupun tidak langsung.
e. Model Eksekusi
Strategi Hrebiniak
4 Faktor Konstektual dalam Hrebiniak Model adalah:
§ 1 Power dan pengaruh pemimpin
§ 1 Budaya perusahaan
§ 1 Kepemimpinan
§ 1 Change management.
f. Kesalah
Persepsi Strategi
Menurut Michael Porter terdapat 3 kesalahan persepsi dalam
pendefenisian strategi, yaitu:
1. Strategi untuk internasionalisasi
2. Strategi untuk mengkonsolidasi industry
3. Strategi untuk meningkatkan anggaran R & D
4.Evaluasi
dan Kontrol
a.
Pengertian Evaluasi dan
Strategi
Evaluasi strategi adalah tahap proses
manajemen dimana manajer puncak berusaha memastikan bahwa strategi yang mereka
pilih terlaksana dengan tepat dan mencapai tujuan perusahaan. Para manajer
sangat perlu mengetahui kapan strategi tertentu tidak berfungsi dengan baik,
evaluasi strategi berarti usaha untuk memperoleh informasi ini. Semua strategi
dapat dimodifikasi di masa depan karena faktor-faktor eksternal dan internal
selalu berubah. Tiga macam aktivitas mendasar untuk mengevaluasi strategi
yaitu:
1. Meninjau faktor-faktor eksternal dan
internal (dasar strategi sekarang).
2. Mengukur prestasi.
3. Mengambil tindakan korektif.
Aktivitas perumusan strategi, implementasi
dan evaluasi terjadi di tiga tingkat hierarki dalam organisasi yang besar,
korporasi, divisi atau unit bisnis strategis, dan fungsional. Perusahaan bisnis
multidivisional yang biasanya besar, memiliki tiga level strategi: korporasi, bisnis
dan fungsional.
Strategi adalah pendekatan secara keseluruhan
yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan, perencanaan, dan eksekusi sebuah
aktivitas dalam kurun waktu tertentu. Merumuskan strategi bisnis melibatkan
pengambilan keputusan pada tingkat unit bisnis. Di dalam strategi tingkat ini
yang ditujukan adalah bagaimana cara bersaingnya.
Pendekatan yang berguna di dalam merumuskan
strategi bisnis sebaiknya didasarkan atas analisis persaingan yang dicetuskan
oleh Michael Porter:
1) Ancaman
Pendatang Baru
2) Daya
Tawar Menawar Pemasok.
3) Daya
Tawar Menawar Pembeli.
4) Daya
Tawar Produk Pengganti.
5) Persaingan
Antar Pesaing.
b.
Hakekat Evaluasi Strategi
Proses manajemen strategis menghasilkan
keputusan yang dapat mempunyai konsekuensi yang signifikan dan jangka panjang.
Evaluasi strategi merupakan proses yang rumit dan sensitif. Terlalu banyak
mengevaluasi strategi dapat menghabiskan biaya yang sangat mahal dan bisa jadi
kontra produktif. Evaluasi strategi penting untuk memastikan tujuan-tujuan
strategi yang dapat ditetapkan dapat tercapai.
1) Kegiatan
Evaluasi Strategi
Mengkaji landasan strategi bisnis atau
perusahaan, membandingkan hasil yang diharapkan dengan kenyataan, mengambil
tindakan korektif untuk memastikan bahwa kinerja sesuai dengan rencana
2) Kriteria
Evaluasi Strategi
Konsistensi sebuah strategi tidak boleh
memiliki tujuan dan kebijakan yang tidak konsisten. Kelayakan; sebuah strategi
tidak boleh terlalu banyak membebani sumber daya yang ada maupun tidak boleh
menciptakan sub masalah yang tidak dapat dipecahkan. Kesesuaian; kesesuaian
mengacu pada kebutuhan para perencana strategi untuk mengkaji serangkaian trend
maupun masing-masing tren dalam mengevaluasi strategi. Keunggulan, mendorong
penciptaan dan mempertahankan keunggulan kompetitif di bidang tertentu.
3) Alasan
perlunya Evaluasi Strategi
Semakin kompleknya masalah lingkungan semakin
sulitnya memprediksi
masa organisasi. Berkurangnya rentang waktu dimana perencanaan dapat dilakukan dengan tingkat ketepatan tertentu.
masa organisasi. Berkurangnya rentang waktu dimana perencanaan dapat dilakukan dengan tingkat ketepatan tertentu.
4) Proses
Evaluasi Strategi
Evaluasi strategi harus mempertanyakan
harapan dan asumsi manajerial, memicu tinjauan sasaran dan nilai serta
merangsang kreativitas dalam menghasilkan alternatif dan memformulasikan
kriteria evaluasi. Evaluasi strategi harus dilaksanakan secara berkelanjutan.
5) Mengkaji
ulang Landasan strategi
mengembangkan matrik EFE dan EFI yang telah
direvisi matrik EFI yang sudah direvisi harus fokus pada perubahan dalam
kekuatan dan kelemahan manajemen, pemasaran, keuangan atau akunting, produksi
atau koperasi, litbang dan SIM Matrik EFE yang sudah direvisi harus menunjukkan
seberapa efektif strategi perusahaan dalam merespon peluang dan ancaman utama.
6) Mengukur
Kinerja Organisasi
Aktivitas ini termasuk membandingkan hasil yang
diharapkan dengan
hasil yang sebenarnya, menyelidiki penyimpangan rencana, mengevaluasi prestasi individual dan menyimak kemajuan yang dibuat kearah pencapaian sasaran yang dinyatakan.
Ada Tiga alasan aktivitas pokok evaluasi strategi
hasil yang sebenarnya, menyelidiki penyimpangan rencana, mengevaluasi prestasi individual dan menyimak kemajuan yang dibuat kearah pencapaian sasaran yang dinyatakan.
Ada Tiga alasan aktivitas pokok evaluasi strategi
§ Mengkaji
ulang atas landasan evaluasi strategi.
§ Mengukur
kinerja organisasi dengan membandingkan hasil yang diharapkan dengan hasil yang
sebenarnya.
§ Pengambilan
tindakan korektif untuk memastikan kinerja sesuai dengan rencana.
Beberapa
potensi masalah yang berkaitan dengan penggunaan kriteria kuantitatif untuk
mengevaluasi strategi antara lain:
§ Sebagian
besar kriteria kuantitatif lebih mengacu pada tujuan tahunan daripada tujuan
jangka panjang.
§ Metode
akuntansi yang berbeda bisa menghasilkan hasil yang berbeda dalam berbagai
kriteria kuantitatif.
§ Penilaian
secara intuitif hampir selalu dilakukan dalam penjabaran kriteria kuantitatif.
Dengan
adanya beberapa alasan-alasan tersebut dan alasan lainnya, kriteria kualitatif
dibutuhkan dalam mengevaluasi strategi. Faktor manusia seperti tingkat
ketidakhadiran dan rasio turn over yang tinggi, kualitas dan kuantitas produksi
yang rendah, atau tingkat kepuasan karyawan yang rendah, merupakan penyebab
menurunnya kinerja. Faktor-faktor dalam pemasaran, keuangan/akuntansi, litbang,
atau sistem informasi manajemen juga dapat menimbulkan masalah keuangan (Fred.
R. David, 2006: 446).
c.
Kriteria Evaluasi
Bidang efektivitas organisasi yakni merumuskan dan
mengukur faktor-faktor
evaluasi sangat kompleks. Memilih sejumlah faktor sebagai dasar untuk mengevaluasi bukanlah masalah yang mudah. Berbagai kriteria dapat digunakan dengan tepat, tergantung pada tujuan evaluasi seperti yang ditunjukkan kelima jenis pendekatan pengendaliannya. Mengevaluasi isi dan proses strategi serta rencana harus berperan dalam sistem. Artinya, evaluasi diasumsikan secara khas sebagai cara atau metode untuk mengetahui apakah isi strategi bekerja atau tidak bekerja. Berikut adalah kriteria penilaian dalam mengevaluasi suatu strategi:
evaluasi sangat kompleks. Memilih sejumlah faktor sebagai dasar untuk mengevaluasi bukanlah masalah yang mudah. Berbagai kriteria dapat digunakan dengan tepat, tergantung pada tujuan evaluasi seperti yang ditunjukkan kelima jenis pendekatan pengendaliannya. Mengevaluasi isi dan proses strategi serta rencana harus berperan dalam sistem. Artinya, evaluasi diasumsikan secara khas sebagai cara atau metode untuk mengetahui apakah isi strategi bekerja atau tidak bekerja. Berikut adalah kriteria penilaian dalam mengevaluasi suatu strategi:
·
Kriteria kuantitatif
dalam mencoba mengevaluasi strategi perusahaan secara
kuantitatif
dapat dilihat dengan bagaimana prestasi perusahaan dibandingkan dengan apa yang dilakukan di masa lampau, atau membandingkannya dengan para pesaingnya dalam hal seperti laba bersih, harga saham, tingkat dividen, laba per lembar saham, hasil pengembalian atas modal, hasil pengembalian atas ekuitas, pangsa pasar, pertumbuhan penjualan, dan lain sebagainya. Selain faktor tersebut, banyak faktor-faktor lain yang mungkin terlihat. Tentu saja, faktor dan ukuran keberhasilan dapat jauh berbeda untuk perusahaan lain tergantung pada tujuan dan strategi. Contohnya, cara yang biasa digunakan para eksekutif untuk memantau pabrikasi sering kali mengandalkan ukuran perputaran persediaan. Ini dapat diterima jika strateginya mengandalkan pengukuran keluaran operasi produksi jangka panjang.
Sebagian besar, tolak ukur ini bersifat internal. Tetapi penilaian objektif dapat juga dibuat dengan membandingkan keberhasilan perusahaan dengan keberhasilan perusahaan lain yang sejenis. Hal ini adalah suatu aspek penting penilaian tentang kekuatan dan kelemahan, sebagai masukan untuk mengembangkan keunggulan bersaing.
Pendekatan lainnya adalah menanyakan kepada ahli tentang perusahaan yang paling berhasil, hal ini adalah pendekatan subjektif. Baik pendekatan objektif maupun pendekatan subjektif terhadap pengukuran, menjadi semakin sukar bila kriteria yang digunakan untuk menilai suatu keberhasilan lebih dari satu.
dapat dilihat dengan bagaimana prestasi perusahaan dibandingkan dengan apa yang dilakukan di masa lampau, atau membandingkannya dengan para pesaingnya dalam hal seperti laba bersih, harga saham, tingkat dividen, laba per lembar saham, hasil pengembalian atas modal, hasil pengembalian atas ekuitas, pangsa pasar, pertumbuhan penjualan, dan lain sebagainya. Selain faktor tersebut, banyak faktor-faktor lain yang mungkin terlihat. Tentu saja, faktor dan ukuran keberhasilan dapat jauh berbeda untuk perusahaan lain tergantung pada tujuan dan strategi. Contohnya, cara yang biasa digunakan para eksekutif untuk memantau pabrikasi sering kali mengandalkan ukuran perputaran persediaan. Ini dapat diterima jika strateginya mengandalkan pengukuran keluaran operasi produksi jangka panjang.
Sebagian besar, tolak ukur ini bersifat internal. Tetapi penilaian objektif dapat juga dibuat dengan membandingkan keberhasilan perusahaan dengan keberhasilan perusahaan lain yang sejenis. Hal ini adalah suatu aspek penting penilaian tentang kekuatan dan kelemahan, sebagai masukan untuk mengembangkan keunggulan bersaing.
Pendekatan lainnya adalah menanyakan kepada ahli tentang perusahaan yang paling berhasil, hal ini adalah pendekatan subjektif. Baik pendekatan objektif maupun pendekatan subjektif terhadap pengukuran, menjadi semakin sukar bila kriteria yang digunakan untuk menilai suatu keberhasilan lebih dari satu.
·
Kriteria kualitatif
Telah dikemukakan bahwa penilaian subjektif dapat
dicakupkan dengan
evaluasi pasca-fakta. Beberapa kriteria kualitatif dapat juga digunakan di sini untuk tujuan tersebut. Bahkan seperti dikemukakan sebelumnya, penilaian subjektif untuk memastikan bahwa strategi yang dijalankan memang tepat. Tetapi kriteria disini cenderung lebih tepat untuk mengkaji rencana secara menyeluruh sebelum perusahaan diminta mengubah arah atau menjalankan strategi. Serangkaian pertanyaan kualitatif diajukan untuk setiap kriteria ini. Pertanyaan dasarnya adalah apakah tujuan, strategi, dan rencana terpadu dan komprehensif sudah konsisten, tepat, dan dapat berjalan (workable).
evaluasi pasca-fakta. Beberapa kriteria kualitatif dapat juga digunakan di sini untuk tujuan tersebut. Bahkan seperti dikemukakan sebelumnya, penilaian subjektif untuk memastikan bahwa strategi yang dijalankan memang tepat. Tetapi kriteria disini cenderung lebih tepat untuk mengkaji rencana secara menyeluruh sebelum perusahaan diminta mengubah arah atau menjalankan strategi. Serangkaian pertanyaan kualitatif diajukan untuk setiap kriteria ini. Pertanyaan dasarnya adalah apakah tujuan, strategi, dan rencana terpadu dan komprehensif sudah konsisten, tepat, dan dapat berjalan (workable).
- Konsistensi
Apakah rencana yang terpadu dan komprehensif sudah konsisten dengan tujuan, asumsi lingkungan, dan kondisi internal?
Apakah rencana yang terpadu dan komprehensif sudah konsisten dengan tujuan, asumsi lingkungan, dan kondisi internal?
- Ketepatan
Apakah rencana yang terpadu dan komprehensif sudah memperoleh sumber daya yang diperlukan, preferensi resiko, dan wawasan waktu.
Apakah rencana yang terpadu dan komprehensif sudah memperoleh sumber daya yang diperlukan, preferensi resiko, dan wawasan waktu.
- Workable
Apakah rencana yang terpadu dan komprehensif layak dan memberikan simulasi terhadap perusahaan?
Apakah rencana yang terpadu dan komprehensif layak dan memberikan simulasi terhadap perusahaan?
d.
Proses Pengendalian atau Kontrol
adalah untuk
memastikan sampai sejauh mana suatu perusahaan itu
berjalan. Prosesnya yaitu membandingkan beberapa kinerja pada hasil yang telah dicapai untuk selanjutnya mengambil tindakan perbaikan jika diperlukan.
berjalan. Prosesnya yaitu membandingkan beberapa kinerja pada hasil yang telah dicapai untuk selanjutnya mengambil tindakan perbaikan jika diperlukan.
·
Menentukan apa yang diukur manajer puncak dan
operasional dalam suatu perusahaan perlu menentukan proses implementasi dan hasil-hasil
yang akan dipantau. Proses dan hasil tersebut harus dapat diukur dalam cara
yang objektif dan konsisten. secara tradisional banyak perusahaan bahwa
mengevaluasi strategi hanya menilai bagaimana kinerja perusahaan. Apakah aset
meningkat? Apakah provit meningkat? Apakah produktivitas meningkat? Bagaimana
dengan Return on Investment? Banyak yang beranggapan
indikator-indikator tersebut memuaskan/ berjalan sebagaimana mestinya. Namun,
cara-cara tersebut terkadang membuat kita misleading. Karena fokus perusahaan
tidak hanya jangka pendek, namun juga jangka panjang yang tidak hanya fokus
pada analisis tersebut saja, kita juga membutuhkan analisis lain seperti
pelanggan, stakeholder, SDM, dll.
·
Menetapkan standar kinerja
standar kinerja merupakan sasaran strategis atas hasil
kerja yang
dapat diterima. Penentuan standar kinerja tidak hanya pada hasil akhir namun juga pada prosesnya.
dapat diterima. Penentuan standar kinerja tidak hanya pada hasil akhir namun juga pada prosesnya.
·
Mengukur kinerja aktual.Pengukuran dilakukan
saat awal penentuan standar.
·
Membandingkan kinerja aktual dengan standar
yang telah ditetapkan.
Proses-proses akan berakhir jika telah sesuai standar atau terdapat penyimpangan yang masih dapat diterima (rentang toleransi).
Proses-proses akan berakhir jika telah sesuai standar atau terdapat penyimpangan yang masih dapat diterima (rentang toleransi).
·
Mengambil tindakan perbaikan. tindakan
perbaikan dilakukan jika hasilnya memang sudah tidak bisa di toleransi. Hal-hal
yang harus diperhatikan sebelum perbaikan:
- Apakah
penyimpangan suatu kebetulan?
- Apakah
proses yang berjalan tidak berfungsi dengan baik?
- Apakah
proses yang berjalan sesuai standar?
Tindakan
perbaikan tidak hanya untuk memperbaiki penyimpangan yang terjadi, namun juga
untuk mencegah kejadian tersebut agar tidak terulang kembali.
e.
Karakter Evaluasi dan Kontrol
ada beberapa karakter yang
membuat evaluasi strategi kita menjadi efektif.
pada bagian ini kita akan membahas tiga karakter utama agar aktivitas evaluasi tidak berlangsung dengan sia-sia, yaitu:
pada bagian ini kita akan membahas tiga karakter utama agar aktivitas evaluasi tidak berlangsung dengan sia-sia, yaitu:
1) Ekonomikal.
Aspek yang kita perlukan dalam evaluasi ini adalah informasi atas kinerja yang
indikatornya sudah diterapkan terlebih dahulu. Ketika informasi yang didapat
lengkap maka akan semakin baik.
2) Aspek
yang bermakna. Tindakan evaluasi yang akan kita lakukan harus sesuai dengan
tujuan yang telah kita tetapkan. Karena itulah yang merupakan penentuan
prioritas, kriteria kerja dalam penilaian, pembobotan yang akurat menjadi penting
dalam evaluasi kerja.
3) Tepat
waktu. Evaluasi yang dilakukan dilakukan tepat pada waktunya, karena itu
perusahaan dalam situasi persaingan bisnis sekarang harus memanfaatkan dukungan
teknologi informasi. Berbagai persoalan terkait degan kemutakhiran informasi
untuk pengawasan kini bisa dipecahkan dengan dukungan teknologi. untuk
menggambarkan karakter ini kita bisa mencontohkan lewat perusahaan perkebunan,
misalnya, yang memiliki kebun di remote area, di kawasan jauh dari dari
perkotaan memiliki perangkat teknologi untuk memantau perkembangan pengelolaan
kebun. Mereka memiliki foto dari satelit untuk informasi rinci seperti beberapa
tanaman yang ada di sejumlah luas lahan tertentu. Dari informasi yang di input
setiap hari, manajemen di kota-kota besar seperti Jakarta dapat mengetahui perkembangan
taman-taman dalam waktu yang cepat sekali. Contoh lain bisa juga seperti BMKG
(Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika), dimana BMKG memiliki perangkat
teknologi untuk memantau dan meramal segala aktivitas mulai cuaca, iklim,
hingga seluruh perkembangan sifat alami bumi dan gejalanya. Karena BMKG
memiliki foto dari satelit untuk informasi rinci mengenai segala aktivitas di
bumi Indonesia dan sekitarnya serta memiliki rekaman satelit pada masing-masing
wilayah Indonesia.
DAFTAR
PUSTAKA
http://berytariyo.blogspot.co.id/2013/03/pengaruh-kualitas-pelayanan-terhadap.html
http://rizaayuafriani.blogspot.co.id/2016/06/manajemen-strategik-koperasi.html
https://noramaya.wordpress.com/2013/10/03/551/
http://mahfudzirfan.blogspot.co.id/2015/03/makalah-manajemen-strategik-evaluasi-dan-kontrol.html

Komentar